Potensi Urine Sebagai Pupuk Organik Cair (POC)
By : Wardan Sidiq, S.Pt.
Dewasa ini dunia pertanian dan peternakan banyak disematkan dengan istilah ”organik”. Limbah hasil ternak yang asalnya tidak terpakai dan terbuang sia-sia serta mencemari lingkungan. Kini juga ikut andil dalam pagelaran istilah organik tersebut. Limbah ternak yang berupa padat, cair dan gas semuanya kini mulai di manfaatkan oleh peternak baik skala kecil menengah sampai skala besar. Sehingga terciptalah istilah ”zero waste”.
Dengan adanya proses pengolahan, maka limbah hasil ternak dapat dkemas menjadi pupuk organik, yang memiliki keunggulan ganda selain bermanfaat bagi tumbuhan juga dapat memperbaiki unsur hara pada tanah yang tidak dimilki oleh pupuk kimia, sehingga kesuburan tanah bisa dijaga. Lebih lanjut melihat kondisi yang ada pada saat ini dimana melambungnya harga pupuk an-organic atau pupuk kimia pabrikan, maka limbah kandang merupakan satu peluang usaha tambahan yang memiliki nilai jual
Urine /kencing ternak sapi, kambing, domba kini mulai dimanfaatkan petani sebagai bahan organic untuk menyiram tanaman. Kunggulan penggunaan bio urine yaitu volume penggunaan lebih hemat dibandingkan pupuk organik padat serta aplikasinya lebih mudah karena dapat diberikan dengan penyemprotan atau penyiraman, serta dengan proses akan dapat ditingkatkan kandungan haranya (unsur Nitrogen). Hasil analisis terhadap proses pengayaan N menggunakan Azotobacter pada prosesing bio urine kambing menunjukkan terjadi peningkatan kandungan hara N dari 0,34% menjadi 0,89%.
Pertanian organik sedang berkembang dan memerlukan peningkatan pasokan pupuk organic diantaranya yang berpotensi dikembangan di Indonesia adalah pupuk organic padat (bio kultur) dan urine (bio urine).Oleh karenanya jika peternak bisa mengelola dan memanfaatkan limbah dari kencing sapi ini maka akan mendapatkan input dan keuntungan ganda dari peternakannya.
Peternak yang akan memanfaatkan urine menjadi bio-urine maka agar praktis dalam penampungannya diperlukan suatu saluran limbah yang dimodifikasi agar limbah padat sapi dan urine nya bias terpisah.
Khasiat pupuk organik cair dari limbah ternak ini, selain menyuburkan tanaman juga mampu menghalau hama. Sehingga tentunya berpotensi mempertebal keuntungan petani, karena biaya operasional perawatan tanaman menjadi lebih sedikit.
cara pembuatan pupuk cair dari limbah kambing mengutarakan perlakuan fermentasi yang dilakukan pada pembuatan pupuk cair mampu meningkatkan kandungan unsur-unsur hara. sebagai catatan pembuatan bio urine sama sekali tidak menggunakan pupuk kimia, bahan yang diperlukan untuk membuat fermentasi pupuk cair bio urine dengan skala kecil adalah sebagai berikut :
1. 1 (Satu) drum plastic urine dengan kapasitas 150 liter.
2.Tetes Tebu/Molasses 750 ml.
3. Empon-empon (Temulawak, Temuireng, Kunyit dll) 5kg.
4. Bacteri R Bacillus dan Azobacter sebagai starter fermenter 250 ml. Karena kesulitan serta tidak tahu belinya dimana bakteri tersebut, maka saya menggantinya dengan EM4 sebagai starter fermenter.
Bakteri EM4 dan Molases dilarutkan dalam air jernih sebanyak 10 liter kemudian dituangkan ke dalam drum urine, empon-empon dihancurkan dan dimasukan ke dalam drum. Setelah tercampur antara urine dan bahan-bahan tersebut kemudian urine diaduk sampai rata selama 15 menit, kemudian drum plastic ditutup rapat. Lakukan pengadukan setiap hari selama 15 menit dan kemudian drum ditutup rapat kembali selama tujuh hari.
Setelah tujuh hari urine dipompa dengan menggunakan pompa yang biasa digunakan pada aquarium dan dilewatkan melalui talang plastik dengan panjang 2m yang dibuat seperti tangga selama 3 jam, tujuan proses ini untuk penipisan atau menguapkan kandungan gas ammonia, agar tidak berbahaya bagi tanaman yang akan dberi pupuk bio urine tersebut. Kemudian pupuk cair ini siap digunakan.
Untuk aplikasi pupuk cair ini bisa digunakan dengan cara disiramkan dan atau disemprotkan, kondisi tanah sebelum tanam diolah terlebih dahulu dengan menggunakan kotoran kambing. Berikut cara pemakaian bio urine:
1. Untuk tanaman semusim & rumput campur bio urine + air dengan perbandingan 1:2
King Grass : Pemakaian dengan disiramkan setiap setelah rumput diarit.
Jagung, Ubi, Singkong, Cabe dll : Pemakaian dengan disiramkan dan
disemprotkan 2 minggu sekali
2. Untuk tanaman industri dengan asumsi tanamannya baru ditanam dengan ketinggian
rata-rata 80 cm, campur bio urine + air dengan perbandingan 1:1.
Sengon(Albasia), Turi, Mahoni, Nangka, Gamal dll : Pemakaian dengan cara disiram
dan disemprotkan 2 minggu sekali.
3. Untuk bibit Karet dan Sawit (tanaman perkebunan ) camur bio urine + air dengan
perbandingan 1:1, disemprotkan 2 minggu sekali
Tidak ada komentar:
Posting Komentar