CARA MUDAH MENETASKAN TELUR DENGAN MESIN TETAS
Untuk memacu tumbuhnya usaha peternakan unggas perlu adanya stimulus berupa sentuhan teknologi tepat dan mudah sehingga diterapkan oleh peternak. Dari sisi ketersediaan bibit, teknologi penetasan telur buatan dengan penggunaan mesin tetas telur sangat cocok diterapkan. Keunggulan teknologi ini adalah menghilangkan periode mengeram pada induk sehingga induk mampu menghasilkan telur lebih banyak selama hidupnya, selain itu anak ayam dapat di produksi dalam jumlah yang besar pada waktu yang bersamaan. Prinsip kerja dari mesin tetas ini adalah menciptakan situasi dan kondisi yang sama pada saat telur dierami oleh induk. Kondisi yang perlu diperhatikan adalah suhu dan kelembaban. Suhu optimal adalah 38-38,8o C atau 101o F. Kondisi suhu tersebut dapat direkayasa dengan penggunaan sumber panas listrik , kawat nikelin, maupun lampu minyak dan untuk kelembaban optimal digunakan air yang ditempatkan dalam mesin tetas.
Untuk memudahkan dalam menetaskan telur maka kita perlu memahami beberapa halm, diantaranya pemilihan/seleksi telur yang akan ditetaskan. Bila dilihat dari kondisi fisik telur yang dihasilkan dari kandang pembibitan, biasanya tidak semuanya bagus untuk ditetaskan. Oleh karena itu untuk mempertahankan daya tetas yang tinggi, telur-telur tidak memenuhi syarat sebagai telur tetas sebaiknya diafkir. Dengan kata lain, kita perlu mengadakan seleksi terhadap telur-telur yang dihasilkan. Seleksi telur pada umumnya didasarkan kepada :
1. Berat Telur
Untuk telur ayam ras, minimal beratnya sekitar 50 gram dan setinggitingginya 65 gram. Telur yang terlalu besar, biasanya kuning telurnya ganda dan tidak menetas walaupun dieramkan. Sebaliknya telur yang terlalu kecil, juga kurang menetas dengan baik. Untuk telur ayam buras/kampung berat optimal telur yang baik ditetaskan sekitar 35-40 gram
2. Bentuk Telur
Telur-telur yang bentuknya menyimpang dari keadaan normal, umumnya memiliki daya tetas yang rendah/kurang baik. Telur yang bentuknya normal yaitu telur yang mempunyai perbandingan antara panjang dan lebarnya 2 : 3.
3. Keutuhan Kulit Telur
Telur-telur yag dalam keadaan retak / pecah tetapi isi telur tidak keluar, tidak menetas dengan baik.
4. Kualitas Kulit Telur(kerabang)
Telur dengan kulit yang tipis, kulit telur lembek, keadaan perkapuran yang kurang merata, umumnya kurang menetas dengan baik. Tebal kulit telur yang normal berkisar antara 0,33 – 0,35 mm. telur dengan kerabang tipis memiliki daya tetas yang sangat rendah.
5. Warna Kulit Telur
Warna kulit telur sangat berpengaruh terhadap daya tetas telur. Apabila dari sekelompok ayam petelur menghasilkan telur yang kulitnya lebih gelap, maka akan menetas lebih baik dari yang berwarna lebih terang.
6. Kebersihan Kulit Telur
Telur yang kotor sebaiknya tidak ditetaskan, karena telur yang kotor biasanya daya tetasnya rendah. Bisa dibersihkan dengan menggunakan kertas semen (bila kotorannya ringan) atau dibersihkan dengan lap kain yang dicelup air hangat (temperatur 550 C) kemudian dikeringkan. Pada suatu saat telur yang dihasilkan perlu disimpan untuk beberapa hari karena dalam mesin tetas sudah penuh. Dalam kondisi seperti ini, telur jangan disimpan lebih dari satu atau dua minggu.
Telur optimal disimpan di suhu optimal maximal 7 hari (1 minggu) sebab jika lebih dari itu dapat menurunkan daya tetas.
Penanganan dalam penyimpanan Telur Tetas ;
a. Temperatur Penyimpanan.
Temperatur penyimpanan telur sebaiknya tidak terlalu panas atau terlalu dingin. Bila temperatur lingkungan yang panas (>270 C) embryo akan berkembang, tetapi perkembangan itu tidak normal dan kebanyakan mati sebelum atau sesudah berada dalam mesin tetas. Sebaliknya bila disimpan pada temperatur yang terlalu dingin maka daya tetas akan menurun. Temperatur penyimpanan telur yang optimal yaitu sekitar 18,30 C bila telur disimpan tidak lebih dari 14 hari. Bila telur tetas akan disimpan lebih dari 14 hari, maka penyimpanan telur sekitar 10,50 C. Sebelum telur disimpan, harus difumigasi terlebih dahulu biasanya menggunakan KMnO4 dan formalin 40%.
b. Kelembaban Penyimpanan.
Selama dalam penyimpanan, dari bagian dalm telur akan terjadi penguapan yang menyebabkan rongga udara dalam telur menjadi besar. Untuk mencegah adanya penguapan ini dapat dilakukan dengan meningkatkan kelembaban penyimpanan. Kelembaban penyimpanan telur yang baik yaitu sekitar 75 – 85%.
c. Lama penyimpanan.
Bila telur terlalu lama disimpan, maka daya tetas akan terus menurun. Oleh karena itu pada kondisi perusahaan biasanya telur ditetaskan dalam 2 kali per minggu. Dengan demikian telur yang dimasukkan ke dalam
mesin tetas adalah yang berumur 3 hari, 2 hari, dan satu hari. Menurut beberapa hasil penelitian, lama penyimpanan telur yang baik yaitu sekitar 1 – 4 hari.
d. Posisi Telur Selama Penyimpanan.
Telur sebaiknya ditempatkan pada egg tray dengan bagian tumpul diletakan sebelah atas. Hal ini untuk menjaga agar ruang udara dalam telur tetap berada diujung tumpul. Seperti diketahui bahwa ruang udara ini sangat diperlukan oleh embryo untuk perkembangannya. Bila letak diruang udara bergeser dari ujung tumpul, daya tetas telur akan menurun.
e. Pemutaran Telur selama Penyimpanan.
Bila telur disimpan lebih dari satu minggu, sebaiknya telur diputar dengan total pemutaran 900. Untuk telur-telur yang disimpan kurang dari satu minggu, pemutaran tidak diperlukan.
By : Wardan Sidiq, S.Pt.