Munculnya telur omega-3 dan telur rendah kolesterol menimbulkan minat bagi para konsumen meskipun harganya 2-3 kali lipat. Sebenarnya telur (ayam) merupakan bahan pangan sehat dan bergizi tinggi, namun mengapa masih direkayasa? Menurut daftar komposisi bahan makanan, Direktorat Gizi Departemen Kesehatan RI telur mengandung 162 kalori, 12,8g protein, 11,5g lemak, 0,7g karbohidrat, 900 SI vitamin A dan 0,1g vitamin B1.
Telur hasil rekayasa ini biasanya dijadikan untuk taktik bisnis belaka. Agar tidak terkecoh, konsumen pun mesti waspada. Lebih-lebih terhadap produk yang tidak disertai daftar kandungan zat makanan. Sebab, secara fisik sulit dibedakan antara telur “biasa” dengan telur hasil rekayasa. Warna kuning telur hasil rekayasa yang memang tampak lebih tua daripada telur “biasa” bukan jaminan bahwa telur tersebut berkandungan omega-3.
Kenapa dicari?
Bukan tanpa alasan bila sebagian orang meminati telur omega-3. Omega-3 merupakan asam lemak esensial. Artinya, asam lemak omega-3 sangat dibutuhkan oleh tubuh. Karena tubuh tidak bisa membuatnya, maka harus dipasok lewat makanan.
Penemuan omega-3 sebenarnya berawal dari pengamatan oleh ahli terhadap masyarakat Eskimo. Mereka yang tinggal di kawasan kutub itu diketahui tidak berpenyakit jantung. Sementara orang Eskimo yang tinggal di luar kawasan kutub (misal, di Denmark), banyak yang terserang penyakit jantung.
Kenapa bisa begitu? Jawabannya berkaitan dengan pola makan. Makanan utama masyarakat Eskimo di kawasan kutub sana adalah ikan mentah. Setelah dianalisis, ikan yang mereka makan mengandung asam lemak eikosatinpanoat (EPA), yang kemudian disebut asam lemak omega-3 itu. Penelitian pun berlanjut, untuk mengetahui peranan unsur itu terhadap kesehatan jantung.
Hasilnya, asam lemak omega-3 terbukti mempunyai pengaruh yang baik terhadap tubuh. Orang yang mengkonsumsi omega-3, keping-keping darahnya (platelet) tidak mudah pecah ataupun menggumpal. Asam lemak omega-3 menjadikan dinding pembuluh darah (endotil) kuat, tidak rapuh, tidak mudah ditembus zat yang bisa memecahkan dinding pembuluh darah, dan tidak gampang mengkerut.
Asam lemak omega-3, menurunkan parameter biokimia sebagai faktor risiko aterosklerosis, seperti kolesterol, LDL, dan trigliserida. Asam lemak ini juga mampu memperbaiki tekanan darah ataupun menurunkan tekanan darah pada penderita hipertensi.
Kelebihan lain adalah sebagai pencegahan penyakit jantung. Omega-3 juga mempengaruhi pembentukan enzim yang berperan pada kesembuhan penyakit jantung koroner. Pun meningkatkan daya tahan seluler otot jantung dalam menghadapi serangan jantung.
Bahkan ada yang menyebutkan omega-3 bisa mencegah diabetes, membuat mata menjadi lebih awas, meningkatkan kemampuan belajar dan mengingat, meningkatkan kekebalan tubuh, menghilangkan gejala penyakit radang sendi, menghilangkan gangguan tulang belakang dan otak (multiple sclerosis), serta menghambat pertumbuhan kanker.
Kadar asam lemak dalam plasma darah, juga berkaitan erat dengan mortalitas (angka kematian) akibat penyakit kardiovaskuler. Di Amerika, misalnya, mortalitas akibat penyakit kardiovaskuler mencapai 45%. Hal ini berkaitan dengan nilai rasio kadar asam lemak omega-6 berbanding omega-3 dalam darah tinggi, yakni 50. Di Jepang, nilai rasionya 12, angka kematian akibat penyakit kardiovaskuler 12%. Sementara masyarakat Eskimo, nilai perbandingannya cuma 1, dan mortalitas akibat penyakit kardiovaskuler 7%.
Di sini tampak makin kecil nilai rasio omega-6 berbanding omega-3 dalam plasma, makin kecil pula angka mortalitas akibat penyakit kardiovaskuler pada populasi itu.
Pemberian telur omega-3 sebanyak 2 butir/hari selama sebulan, belum menunjukkan perubahan kolesterol dan trigliserida, juga HDL dan LDL, tapi mengubah kadar asam lemak dalam plasma darah. Sebutir telur omega-3 berisi asam lemak omega-3 (618 mg), dan asam lemak omega-6 (999 mg), seperti yang tercantum pada kemasan telur yang diperdagangkan.
Sedangkan telur rendah kolesterol dianggap kurang “bermanfaat”. Telur kolesterol rendah hanya mengurangi masukan kolesterol dari luar, dan tidak mengurangi kolesterol dalam tubuh. Terhadap produk berlabel “tanpa kolesterol”, konsumen seharusnya berhati-hati. Contoh, minyak nonkolesterol. “Minyak goreng bisa dipastikan tidak mengandung kolesterol, tapi ia mengandung asam lemak yang bisa berubah menjadi kolesterol di dalam tubuh.
sumber : intisari
Selasa, 07 Desember 2010
Senin, 06 Desember 2010
Telur Ayam Kampung Lebih Bergizi
Konsumsilah telur ayam kampung, alih-alih ayam ras. Para peneliti dari Pennsylvania State University mengatakan, ayam kampung menghasilkan telur dengan nutrisi esensial yang lebih tinggi, bila dibandingkan dengan ayam ras. Kandungan vitamin E-nya dua kali lipat lebih banyak, dan lemak omega-3-nya 2,5 kali lebih unggul. Semua itu penting dalam meningkatkan kekebalan tubuh, fungsi penglihatan, fungsi otak, hingga kesehatan jantung kita.
Limpahan gizi telur ayam kampung ini disebabkan oleh kondisi ayam yang menghasilkan telur tersebut. Tidak seperti ayam negeri yang diternakkan di dalam kandang, ayam kampung diternakkan dengan membiarkannya berkeliaran di udara terbuka. Oleh karenanya, ayam kampung mendapat bahan makanan alami, seperti biji-bijian, tanaman hijau, serangga, dan cacing. Berada di ruang terbuka juga memungkinkan ayam kampung untuk mendapatkan udara bersih dan cukup sinar matahari.
Selain vitamin E dan asam lemak omega-3 yang lebih banyak, telur ayam kampung juga memiliki kolesterol 1/3 lebih sedikit, lemak jenuh 1/4 lebih sedikit, vitamin A yang 2/3 lebih banyak, dan beta karoten tujuh kali lebih banyak. Kandungan beta karoten yang lebih banyak inilah yang menyebabkan kuning telurnya terlihat lebih gelap. Kemudian, vitamin D-nya juga tiga sampai enam kali lebih banyak.
Karena vitamin E dan D, omega-3, serta setengah dari protein pada telur ini didapatkan dari kuning telurnya, Anda juga disarankan untuk mengonsumsi bagian lezat dari telur ini. Kuning telur juga mengandung lecithin, yang bersama omega-3 akan berfungsi menyeimbangkan kadar kolesterol dan lemak jenuhnya. Tentu, selama Anda tidak berlebihan mengonsumsinya, Anda akan mendapatkan manfaat kesehatannya dengan maksimal.
Sumber : Kompas (2010)
Limpahan gizi telur ayam kampung ini disebabkan oleh kondisi ayam yang menghasilkan telur tersebut. Tidak seperti ayam negeri yang diternakkan di dalam kandang, ayam kampung diternakkan dengan membiarkannya berkeliaran di udara terbuka. Oleh karenanya, ayam kampung mendapat bahan makanan alami, seperti biji-bijian, tanaman hijau, serangga, dan cacing. Berada di ruang terbuka juga memungkinkan ayam kampung untuk mendapatkan udara bersih dan cukup sinar matahari.
Selain vitamin E dan asam lemak omega-3 yang lebih banyak, telur ayam kampung juga memiliki kolesterol 1/3 lebih sedikit, lemak jenuh 1/4 lebih sedikit, vitamin A yang 2/3 lebih banyak, dan beta karoten tujuh kali lebih banyak. Kandungan beta karoten yang lebih banyak inilah yang menyebabkan kuning telurnya terlihat lebih gelap. Kemudian, vitamin D-nya juga tiga sampai enam kali lebih banyak.
Karena vitamin E dan D, omega-3, serta setengah dari protein pada telur ini didapatkan dari kuning telurnya, Anda juga disarankan untuk mengonsumsi bagian lezat dari telur ini. Kuning telur juga mengandung lecithin, yang bersama omega-3 akan berfungsi menyeimbangkan kadar kolesterol dan lemak jenuhnya. Tentu, selama Anda tidak berlebihan mengonsumsinya, Anda akan mendapatkan manfaat kesehatannya dengan maksimal.
Sumber : Kompas (2010)
Untuk Bayi, Pilihlah Ayam Kampung
Daging ayam menjadi salah satu favorit para ibu sebagai campuran makanan pendamping ASI. Akan tetapi, sebaiknya Anda memilih ayam kampung, bukan ayam negeri. Pasalnya meski dari sudut gizinya sama saja, namun makanan ayam negeri dan kampung berbeda.
"Makanan ayam kampung masih alamiah, sedangkan makanan ayam negeri sudah diberi suplemen dan bermacam-macam hormon. Nah, hormon-hormon tersebut akan disimpan dan terakumulasi atau menumpuk di dalam tubuhnya," kata dr. Dadang Primana, MSc, SpGZ, SpKO.
Jadi, bila bayi diberikan ayam negeri, secara tak langsung pakan yang disuntikkan pada ayam negeri akan termakan juga oleh bayi. "Bayi seperti mengkonsumsi makanan yang mengandung zat aditif secara langsung saja," lanjut Dadang.
Adapun yang dimaksud zat aditif ialah zat tambahan pada makanan yang membuat makanan menjadi lebih enak, beraroma lebih harum atau yang membuat makanan lebih tahan lama. Jikapun Bapak dan Ibu ingin si kecil diberikan ayam negeri, menurut Dadang, boleh saja. "Tapi jangan terlalu sering, ya," pesannya. Yang jelas, kalau mau aman, sebaiknya, sih, berikan ayam kampung saja.
Sedangkan telur ayam, setelah bayi berusia 6 bulan dapat diberikan kuning telur karena kuning telur mengandung protein yang tinggi. Namun frekuensi pemberiannya tak perlu setiap hari, lebih baik seminggu sekali. Pasalnya, kuning telur mengandung kolesterol yang tinggi. "Kalau terlalu sering diberikan pada bayi, dikhawatirkan setelah dewasa nanti tingkat kolesterolnya akan tinggi," tutur Dadang.
Sedangkan putih telur, pada prinsipnya boleh diberikan. Namun sebelumnya, Bapak dan Ibu perlu tahu dulu, apakah si kecil memiliki riwayat alergi. Soalnya, putih telur dapat memicu reaksi alerginya.
"Putih telur mengandung suatu jenis protein yang tak dapat berubah menjadi asam amino sehingga dapat terserap dalam darah. Inilah yang dapat memicu reaksi alergi," terang Dadang.
Tak demikian halnya bila bayi normal mendapat ASI eksklusif hingga usia 4 bulan, pemberian putih telur pada usia 5 bulan ke atas tak jadi masalah. Soalnya, si bayi telah memperoleh zat anti bodi dari ASI. Namun demikian, frekuensi pemberiannya hendaknya tak terlalu sering, cukup seminggu sekali. Akan halnya hati ayam, menurut Dadang, tak berbeda dengan kuning telur.
Hati ayam merupakan sumber protein yang tinggi namun memiliki kolestrol yang tinggi. "Bayi tentu saja memerlukan kolesterol namun tak perlu banyak sehingga frekuensi pemberiannya cukup seminggu sekali saja." Memang, aku Dadang, kebanyakan ibu biasanya hanya mencampur nasi tim dengan hati ayam atau telur.
Padahal, nasi tim itu enggak apa-apa, kalau dicampur dengan ayam, daging giling, ataupun ikan. "Bahkan, kalau bayi mau diberi kaki ayam juga boleh, karena kaki ayam juga mengandung protein seperti halnya daging ayam." Tapi jangan lupa, agar menunya setiap hari berganti-ganti, beragam, dan bervariasi.
Sumber : Kompas (2010)
"Makanan ayam kampung masih alamiah, sedangkan makanan ayam negeri sudah diberi suplemen dan bermacam-macam hormon. Nah, hormon-hormon tersebut akan disimpan dan terakumulasi atau menumpuk di dalam tubuhnya," kata dr. Dadang Primana, MSc, SpGZ, SpKO.
Jadi, bila bayi diberikan ayam negeri, secara tak langsung pakan yang disuntikkan pada ayam negeri akan termakan juga oleh bayi. "Bayi seperti mengkonsumsi makanan yang mengandung zat aditif secara langsung saja," lanjut Dadang.
Adapun yang dimaksud zat aditif ialah zat tambahan pada makanan yang membuat makanan menjadi lebih enak, beraroma lebih harum atau yang membuat makanan lebih tahan lama. Jikapun Bapak dan Ibu ingin si kecil diberikan ayam negeri, menurut Dadang, boleh saja. "Tapi jangan terlalu sering, ya," pesannya. Yang jelas, kalau mau aman, sebaiknya, sih, berikan ayam kampung saja.
Sedangkan telur ayam, setelah bayi berusia 6 bulan dapat diberikan kuning telur karena kuning telur mengandung protein yang tinggi. Namun frekuensi pemberiannya tak perlu setiap hari, lebih baik seminggu sekali. Pasalnya, kuning telur mengandung kolesterol yang tinggi. "Kalau terlalu sering diberikan pada bayi, dikhawatirkan setelah dewasa nanti tingkat kolesterolnya akan tinggi," tutur Dadang.
Sedangkan putih telur, pada prinsipnya boleh diberikan. Namun sebelumnya, Bapak dan Ibu perlu tahu dulu, apakah si kecil memiliki riwayat alergi. Soalnya, putih telur dapat memicu reaksi alerginya.
"Putih telur mengandung suatu jenis protein yang tak dapat berubah menjadi asam amino sehingga dapat terserap dalam darah. Inilah yang dapat memicu reaksi alergi," terang Dadang.
Tak demikian halnya bila bayi normal mendapat ASI eksklusif hingga usia 4 bulan, pemberian putih telur pada usia 5 bulan ke atas tak jadi masalah. Soalnya, si bayi telah memperoleh zat anti bodi dari ASI. Namun demikian, frekuensi pemberiannya hendaknya tak terlalu sering, cukup seminggu sekali. Akan halnya hati ayam, menurut Dadang, tak berbeda dengan kuning telur.
Hati ayam merupakan sumber protein yang tinggi namun memiliki kolestrol yang tinggi. "Bayi tentu saja memerlukan kolesterol namun tak perlu banyak sehingga frekuensi pemberiannya cukup seminggu sekali saja." Memang, aku Dadang, kebanyakan ibu biasanya hanya mencampur nasi tim dengan hati ayam atau telur.
Padahal, nasi tim itu enggak apa-apa, kalau dicampur dengan ayam, daging giling, ataupun ikan. "Bahkan, kalau bayi mau diberi kaki ayam juga boleh, karena kaki ayam juga mengandung protein seperti halnya daging ayam." Tapi jangan lupa, agar menunya setiap hari berganti-ganti, beragam, dan bervariasi.
Sumber : Kompas (2010)
Langganan:
Postingan (Atom)